Sudah 15 tahun film itu dirilis. Sejak 2009, kita telah menyaksikan berbagai perubahan kebijakan: dari KTSP ke Kurikulum 2013, lalu ke Kurikulum Merdeka. Nama-namanya berubah, konsepnya diperhalus, tetapi suasana batin pendidikan sering kali tetap sama kita semua masih stuck di Imperial College of Engineering (ICE), di bawah kuku besi Virus Sahastrabuddhe. Kita masih jadi tokoh pada film bernama Farhan Qureshi yang dipaksa jadi insinyur oleh bapaknya. Kita masih jadi Raju Rastogi yang berdoa pada semua dewa agar lolos ujian. Intinya: kita masih gagal total menjadi Rancho alias Phunsukh Wangdu seorang pelajar cerdas dan ilmuwan yang digambarkan pada film.
Film ini seharusnya menjadi film sejarah pendidikan India.
Sayangnya, bagi Indonesia, dia justru menjadi film dokumenter realita yang pahit, yang selalu relevan seolah waktu berhenti di tahun 2009. Kenapa? Karena kita masih memuja hafalan, merayakan persaingan nilai layaknya racun, dan menganggap Ijazah adalah jimat surga yang harus dicapai dengan cara apa pun, untuk bisa memperoleh kerja.
Foucault, Kasta Nilai, dan Manufaktur 'Silencer'
Di kampus ICE, segala sesuatu dinilai, diurutkan, dan ditempel di papan pengumuman. Nilai adalah kasta. Rank satu adalah dewa, rank terakhir adalah pecundang yang siap didepak.
Di sini, di Indonesia, kita melakukan hal yang sama. Mengumumkan nilai atau ranking publik sama dengan mengekspos kelemahan seseorang di depan umum. Padahal, tidak semua siswa ditakdirkan punya bakat di semua bidang. Tapi kita dengan bangganya menciptakan sistem yang menghakimi seluruh potensi manusia hanya dari angka-angka di atas kertas. Katanya sebagai bentuk doktrin agar siswa lebih semangat belajar dan bersaing mengapai nilai terbaik.
Inilah representasi sempurna dari apa yang disebut filsuf Michel Foucault sebagai Kekuasaan Disipliner (Disciplinary Power). Sistem pendidikan kita tidak butuh cambuk fisik untuk membuat siswa tunduk; ketakutan akan nilai merah, ranking, dan tatapan orang tua menghakimi saja sudah cukup menjadi alat kontrol. Kita menciptakan docile bodies tubuh-tubuh jinak yang taat, terkelola, dan produktif, bukan yang kritis.
Akibatnya? Tentu saja kita memproduksi Chatur Ramalingam alias Silencer dalam jumlah massal. Sosok mahasiswa yang sangat kompetitif dan terobsesi dengan nilai, yang strateginya adalah menghafal materi kuliah ("machine" learning) daripada benar-benar memahaminya. Ia adalah tokoh antagonis yang mewakili tekanan sistem pendidikan yang mengutamakan nilai di atas pemahaman sejati.
Lihatlah hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2022. Meskipun Kemendikbudristek mengklaim peringkat Indonesia 'naik' (entah bagaimana caranya), faktanya skor kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia justru jeblok. Skor literasi membaca kita anjlok ke 359 poin, skor terendah sejak tahun 2000, menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara.
Angka ini secara ilmiah membuktikan: sistem kita sukses melahirkan generasi yang fasih menghafal rumus, tapi tumpul dalam memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah kompleks. Mereka jago teori, tapi tumpul nalar. Ironisnya, di zaman AI ini, pekerjaan menghafal sudah bisa digantikan oleh ChatGPT. Kalau sistem pendidikan kita masih fokus memproduksi chatbot versi manusia, all is not well, my friend!
Lomba Ketakutan, Depresi, dan Penebusan Dosa Orang Tua
Krisis mental di kalangan pelajar kita hari ini adalah tagihan dari sistem nilai yang kita biarkan berabad-abad. Tekanan akademik, beban tugas, ekspektasi nilai tinggi, dan persaingan prestasi telah menjadi pemicu utama.
Data Global School-based Student Health Survey (GSHS) 2023 menunjukkan angka yang menampar: 10,4% siswa (usia 13–17 tahun) di Indonesia pernah mencoba bunuh diri dalam 12 bulan terakhir. Belum lagi laporan Wamendikdasmen yang menyebut 34,9% remaja kita mengalami masalah kesehatan mental.
Data-data ini menggarisbawahi bahwa "perlombaan nilai" bukanlah masalah sepele, melainkan kontributor langsung pada krisis mental nyata yang tumbuh di balik seragam sekolah.
Rancho, sosok yang menolak belajar demi angka, adalah simbol dari Cultural Resistance ala sosiolog Pierre Bourdieu perlawanan terhadap habitus pendidikan yang obsesif pada nilai terukur. Sayangnya, kebanyakan anak Indonesia adalah Farhan dan Raju yang terikat pada ekspektasi tak terucap. Ia tidak bisa menjalankan hidup sesuai keinginannya.
Kenapa ini terjadi? Karena banyak orang tua kita menjelma menjadi Virus versi rumahan. Mereka adalah generasi yang gagal menggapai cita-cita sendiri, lalu mengorbankan anak untuk menjadi 'sosok yang gagal' pada diri mereka dulu. Anak-anak hanya menjadi boneka proyeksi yang dipaksa masuk ke jurusan bergengsi (dokter, insinyur, pegawai negeri sipil) demi Status Sosial, bukan kebahagiaan. 3 idiot dengan jelas menggambarkan realita anak direktur virus bunuh diri karena dipaksa jadi insinyur padahal ingin jadi sastrawan, pelajar lain bunuh diri karena gagal dan takut menghadapi orang tua. Lomba ketakutan ini terus berjalan, mengikat setiap orang pada roda yang mendesing tanpa henti.
Gelar Palsu dan Kematian Akal Sehat Descartes
Jika tekanan akademik menghancurkan siswa miskin yang berpotensi, maka ketidakadilan struktural memastikan orang kaya dan berkuasa tetap berada di puncak piramida tanpa perlu bersusah payah.
Di sini, kita harus meralat filsafat abadi Rene Descartes. Beliau berkata, Cogito Ergo Sum—Aku Berpikir Maka Aku Ada. Di Indonesia, mantra ini sudah lama diubah menjadi: Harta et Kuasa Ergo Sum—Aku Punya Uang dan Kuasa Maka Aku Ada.
Bayangkan, anak-anak miskin berjuang mati-matian, berdarah-darah di bimbel, begadang menghafal di bawah lampu 5 watt, berharap satu hari ijazah dapat mengubah nasib mereka.
Sementara itu, konglomerat, pejabat, bahkan para koruptor busuk di negeri ini bisa dengan santai membeli gelar mentereng, menggunakan joki tugas, atau bahkan mendapatkan ijazah universitas yang kredibilitasnya dipertanyakan tanpa harus berkuliah secara langsung.
Fenomena isu ijazah dan gelar tokoh publik yang sesekali meletus di media memperkuat kritik ini: kuasa dan uang dapat "mengakali" sistem gelar dan pendidikan, membuat esensi ilmu pengetahuan menjadi sampah. Mereka yang berhak atas ilmu, dibatasi biaya. Mereka yang punya uang, membeli legitimasi tanpa harus bersusah payah mengolah pengetahuan. Seperti kasus ijazah palsu mantan presiden Jokowi yang mendesis ditelinga, hingga gelar doktor menteri Bahlil yang diduga plagiarisme.
Dunia pendidikan kita kini didoktrin untuk berorientasi pada Gelar Semata. Banyak teori berkelimpahan, IPK 4.0 menjulang, tapi nyatanya soft skill dan hard skill di lapangan minus. Ijazah kini menjadi kebutuhan mencari kerja. Sistem pendidikan mulai dari kurikulum pembelajaran, bahan ajar hingga waktu belajar dibuat seolah hidup dalam gelap gulitanya pekerja industri. Sedari pagi hingga sore pelajar belajar memahami banyak materi kurikulum gado-gado, bertolakbelakang laiknya negara maju justru memberikan materi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki masing-masing siswa.
Sistem pendidikan dan sistem industri tidak jauh berbeda. Mesin pelajar dan mesin karyawan semata-mata hanya untuk memuaskan nafsu kapitalis. Dengan janji-janji manis, tidak sesuai dengan realita dilapangan jutaan lapangan kerja sering kali bertolak belakang dengan angka pengangguran dengan jumlah lulusan pelajar terdidik.
3 idiot mengunggulkan sosok Rancho yang pernah berucap, “Kejar keunggulan, kesuksesan akan mengejarmu.” Tapi di sini, yang dikejar adalah kertas berhologram. Selama kita masih menganggap pendidikan sebagai balapan tikus dan ijazah sebagai jimat yang bisa dibeli dengan uang atau privilege, selama itu pula kita harus berlapang dada menerima fakta bahwa krisis mental pelajar kita terus memburuk dan terus-menerus memutar ulang 3 Idiots sebagai lagu kebangsaan pendidikan kita.
All Izz Well? Belum. Jauh panggang dari api, harapan atau tujuan yang diinginkan masih sangat jauh dari kenyataan.
