Rabu, 05 April 2023

Mari Mengeksplorasi Kota Istimewa Yogyakarta


Tugu Yogya Golong Gilig

Yogjakarta atau Jogja sebuah daerah yang terletak di kawasan pulau Jawa, tempatnya diantara Provinsi Jawa Tengah. Jogja memiliki keistimewaan daripada kota lain yang ada di Indonesia. Jogja memiliki satu kota madya yaitu Yogjakarta dan empat kabupaten, Sleman, Gunung Kidul, Kulon Progo, dan Bantul. 

Jogja menjadi kota istimewa tidak serta merta begitu saja, dalam sejarahnya Jogja pertama kali dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwana I dengan julukan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diresmikan pada tahun 13 maret 1755.

Pada masa awal berdirinya kota Jogja, pusat pemerintahan berada di Hutan Beringin Desa Pachetokan, tidak lama berselang Sri Sultan Hamengkubuwana I memerintahkan rakyat untuk membabad  hutan tersebut untuk dijadikan wilayah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. 

Berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 7 Oktober 1756 bersamaan dengan Berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Diningrat diantara sungai Winongo dan sungai Code yang letaknya strategis dari penunjang segala bidang kehidupan. Di sebelah utara Kraton berbatasan Gunung Merapi, dan sebelah selatan berbatasan dengan Pantai Laut Selatan. 

Sri Sultan Hamengkubuwana I membangun Kraton Ngayogyakarta dengan pertimbangan lahan yang strategis agar bisa memberikan kesejahteraan penduduk Yogyakarta. Dalam filosofinya Kraton Yogyakarta di dirikan setelah Sri Sultan Hamengkubuwana I melakukan perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti adalah pembagian kerajaan Mataram Islam menjadi dua bagian yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Sebelum menduduki wilayah Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono I bersinggah di Pesanggrahan Ambar Ketawang Kecamatan Gamping Sleman Yogyakarta. 

Didalam Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terdapat tempat tinggal Sri Sultan, keluarga, beserta abdi dalem, dan beberapa kebudayaan seperti Kereta Kencana yang digunakan sebagai transportasi. Pada area Kraton terdapat istilah Catur Sagotra yaitu konsep kosmologi Jawa yang memiliki empat elemen penting, yaitu Kraton sebagai bidang politik, Masjid Gedhe sebagai bidang keagamaan, Pasar Beringharjo sebagai bidang perekonomian, dan Alun-alun sebagai bidang sosial. 

Pada masa kini Yogyakarta masih memiliki keistimewaan selain Kesultanan. Hal itu sudah diatur oleh Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang keistimewaan Yogyakarta. Salah satu keistimewaannya adalah terdapat Pasukan Keamanan (PAM) Budaya yang berfungsi sebagai penyelenggaraan pertahanan dan keamanan. Dalam hal lembaga pemerintah daerah lingkup kecamatan dan kelurahan di Yogyakarta memiliki sebutan Kemantren-Kapenewon. 

Mari menyimak penjelasan lebih lanjut, agar mendapatkan ilmu pengetahuan baru mengenai Kota Yogyakarta. 

Abdi Dalem
Dalam menjalankan Kesultanan Ngayogyakarta, memerlukan aparatur yang membantu menjalankan pemerintahan di Kesultanan. Salah satunya adalah Abdi Dalem yang bertugas membantu berjalannya pemerintahan di Kesultanan. Selain menjalankan pemerintahan Abdi Dalem juga sebagai suri tauladan bagi masyarakat Yogyakarta. Dalam setiap tindakan Abdi Dalem menjujung tinggi unggah-ungguh dan tata krama. Abdi Dalem Kesultanan Ngayogyakarta memiliki ciri khas memakai baju adat Yogyakarta dan bagi perempuan dilarang menggunakan perhiasan. Karena Abdi Dalem setara tanpa ada pembeda dalam setiap kedudukannya. Sebutan "kanca" yang berarti teman atau saudara melekat pada diri Abdi Dalem. 

Abdi Dalem dibagi menjadi dua golongan yaitu Punakawan dan Kaprajan. Abdi Dalem Punakawan menjalankan tugas pada area Kraton. Selain itu Abdi Dalem punakawan dibagi menjadi dua golongan lagi, pertama Abdi Dalem Punakawan Tepas mengabdi selayaknya pegawai yang bekerja di kantor, sedangkan Abdi Dalem Punakawan Caos hanya menghadap ke keraton setiap periode sepuluh hari sekali. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan tanda hormat dan kesetiaan sebagai abdi.

Abdi Dalem Keprajan berasal dari pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang dijadikan Abdi Dalem. Abdi Dalem Keprajan mendarmabaktikan waktu, ilmu dan tenaganya untuk membantu keraton secara suka rela.
Abdi Dalem Keparak ini lebih dekat dengan Sultan, karena tugasnya dalam lingkup Kraton dalam, menyiapkan keperluan upacara Kesultanan, menjaga aji-ajian, menyiapkan keperluan Sultan, permaisuri dan putra-putrinya. 

Untuk menjadi Abdi Dalem, memerlukan masa magang selama dua tahun, jika memenuhi kriteria dan unggah-ungguh melekat pada dirinya. Jika layak menjadi Abdi Dalem maka diadakan proses wisuda Abdi Dalem yang dilakukan dua tahun sekali pada Bukan Bakda Mulud dan Syawal. 

Jika terdapat Abdi Dalem yang sudah Sepuh atau tidak mampu (sakit) menjalankan tugasnya dalam mengabdi kepada Kesultanan maka disebut dengan Miji pemberhentian menjadi Abdi Dalem. Tetapi hal demikian jarang terjadi di Kesultanan Ngayogyakarta, karena dari awal para Abdi Dalem berniat untuk mengabdi kepada Kesultanan Ngayogyakarta hingga akhir hayat. 
Credo watak ksatria melekat kuat didalam hati Abdi Dalem, yang dicetuskan oleh Sultan Hamengkubuwana I yang berisi tentang, Nyawiji fokus dan selalu berserah kepada tuhan YME. Greget, penuh penghayatan & penjiwaa. Sengguh, percaya diri. Ora mingkuh, tidak gentar menghadapi ujian dan hambatan. Dengan adanya Abdi Dalem diharapkan menjadi contoh dan teladan untuk tetap melestarikan unggah-ungguh bagi masyarakat Yogyakarta maupun contoh bagi masyarakat Indonesia sendiri, mengingat diera sekarang budaya modern  kian merambah cepat.

Kereta Kencana
Keistimewaan lain dari Kesultanan di Yogyakarta adalah kendaraan kereta kencana, jika ada Sri Sultan yang wafat , maka diiringi dengan Andong besar atau kereta kencana yang dilapisi emas. Kereta kencan ini khusus digunakan sebagai kendaraan pengiring atau pemakaman Sri Sultan Yogyakarta, selain Sri Sultan tidak menggunakan kereta Kencana dalam menuju pemakaman, para keluarga dan anak-anak Sri Sultan tetap menggunakan mobil ambulan. 

Kereta Kencana tersebut di tarik oleh enam kuda, dengan perjalanan 26 kilo meter dari Kraton Ngayogyakart, menuju pemakaman Hasturenggo Imogiri Bantul. Pemakaman tersebut hingga menempuh perjalanan 26 kilo meter, dikarenakan letak Hasturenggo Imogiri Bantul yang berada pada dataran tinggi di Yogyakarta. Pengiringan dengan kereta kencana terakhir dilakukan pada tahun 1988 saat wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwana IX. 

Pasukan Keamanan (PAM) Budaya
PAM Budaya atau Pasukan Keamanan Budaya merupakan kelompok yang dibentuk langsung oleh Kesultanan Ngayogyakarta. Tujuannya ialah memberikan rasa aman dan nyaman khususnya pada area Kraton Yogyakarta. 

Pasukan Keamanan Budaya biasanya melakukan patroli dan menjaga keamanan di area Titik Nol Yogyakarta dan Alun-alun utara yang berdekatan dengan Kraton Yogyakarta. Kawasan wisata tersebut terkadang rawan kejahatan, seperti maling, copet dan kehilangan harta benda lainnya. Maka dari itu sebagai bentuk tanggungjawab Kesultanan Ngayogyakarta, dibentuklah Pasukan Keamanan Budaya (PAM  Budaya) fungsi dan tugas PAM Budaya sama halnya dengan Satuan Polisi Pamong Praja, Polisi dan Babinsa, namun PAM Budaya di bentuk khusus oleh pihak Kesultanan Ngayogyakarta.

Ada kalahnya PAM Budaya menjembatani laporan  tindakan kriminal atau kehilangan barang-barang yang akan dilimpahkan kepada pihak berwajib yaitu polisi. 

Kemantren dan Kapenewon
Kemantren adalah nama lain dari kecamatan di Kota Jogja, karena Jogja adalah daerah istimewa maka di sebut dengan Kemantren yang dipimpin oleh Mantri Pamong Praja (kepala camat) dan Mantri Anom (Sekretaris). Kemantren di Kota Jogja terdiri dari 14 Kemantren yaitu Kemantren, wirobrajan, Ngampilan, Matrijeron, Mergantran, Gondomanan, Kraton, Umbulharjo, Kota gede, Pakualaman, Danurejan, Jetis, Tegal Rejo, Gondokusuman, Gedongtengen. Dari setiap kemantren memiliki ciri khas dan sejarah yang menarik dan patut di ketahui khalayak umum, karena keistimewaan Jogja tidak hanya wisatanya. 

Berbeda pula penyebutan kecamatan di wilayah Kabupaten Jogja disebut dengan Kapenewon, yang dipimpin oleh Panewu (kepala camat) dan Panewu Anom (sekretaris). Perubahan istilah tersebut untuk menjalankan UU Nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.  Maka dari itu istilah  pemerintah dan daerah Yogyakarta memiliki filosofis yang unik sehingga sering dikenal oleh masyarakat sebagai Kota Istimewa. 

Dari banyak penjelasan keistimewaan Kota Yogyakarta tersebut, dapat dijadikan ilmu pengetahuan baru, mengapa Yogyakarta menjadi kota Istimewa, tidak sekedar mengenal wisatanya saja. Mengenal sejarah daerah merupakan suatu kewajiban, siapa lagi kalo bukan para generasi muda yang melestarikan. 

Selasa, 04 April 2023

Dobrakan Society 5.0 Oleh Kampung Cyber Yogyakarta Menuju Kemajuan Bangsa Indonesia

Kampung Cyber Yogyakarta- kejarmimpi.id


Kampung Cyber atau kampung Information technology (IT) merupakan wisata edukasi melek teknologi yang terletak  di kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. Istilah Kampung Cyber pertama kali dicetuskan oleh Antonius Sasongko pada tahun 2006, dengan harapan Kampung tersebut dapat bersaing di era teknologi dengan memanfaatkan internet untuk berkomunikasi dan membranding Kampung Cyber untuk dikenal masyarakat luas. 

Pada setiap rumah dan pos ronda di Kampung Cyber mempunyai wifi untuk mengakses internet. Terdapat dua opsi dalam mengakses wifi tersebut, yang pertama untuk warga kampung cyber dan masyarakat umum. Jika untuk warga memerlukan akun dan pasword dalam mengakses wifi tersebut, sedangkan untuk masyarakat umum dapat mengakses dengan gratis, namun dengan kecepatan internetnya yang dibatasi. 

Selain membranding wifi dalam mengakses internet. Warga kampung Cyber memiliki website atau situs mengenai Kampung Cyber yaitu www.rt36kampoengcyber.com, website tersebut digunakan untuk mengenalkan Kampung Cyber sebagai Kampung wisata di Yogyakarta yang melek teknologi. Isi dari website tersebut salah satunya adalah, hasil UMKM kerajinan tangan yang sama halnya dengan online shop. Hal tersebut patut di apresiasi dengan memanfaatkan teknologi yang dapat meningkatkan perekonomi warga Kampung Cyber. Melalui website tersebut memberikan kesempatan UMKM memperoleh pasar pelanggan yang lebih luas. Selain itu wisatawan dapat mengakses informasi mengenai Kampung Cyber. 

Seluruh masyarakat Kampung Cyber baik tua maupun muda, sudah pandai dalam mengakses internet dan teknologi di era serba digital ini, sesuai dengan harapan pendiri Kampung Cyber Antonius Sasongko. 


Mark Zuckerberg (kiri) dan Antonius Sasongko (kanan) di Kampung Cyber, Jogja, Minggu (12/10/2014)- (Dokumentasi Antonius Sasongko) 


Kampung Cyber juga menjadi satu-satunya kampung melek teknologi di Yogyakarta, sehingga pernah di datangi Ceo Facebook Mark Zuckerberg pada tahun 2014 dan di salah satu jalan Kampung Cyber dinamai dengan jalan Zuckerberg. 

Tidak hanya itu, di Kampung Cyber memiliki arsitektur kampung yang unik dan menarik cocok untuk foto Instagramable. Pada setiap tembok atau dinding terdapat seni lukisan mural yang sifatnya mengedukasi bagi yang melihat mural tersebut. Meskipun sudah melek teknologi, tetapi Kampung Cyber tidak melupakan unsur jawa yang kental dengan keramahtamahan. 

Branding kampung edukasi melek teknologi tidak lepas dari era baru yaitu Society 5.0. Era teknologi yang di mana semua teknologi menjadi bagian dari manusia. Maksudnya ialah manusia memiliki peran utama sebagai pemanfaat sekaligus pengembang teknologi modern, seperti AI dengan dobrakkan baru dalam mengembangkan teknologi yang membantu manusia untuk berinovasi, meminimalisir permasalahan sosial dan ekonomi dalam menciptakan keselarasan hidup manusia. 

Seperti yang dilakukan Kampung Cyber dengan menggunakan website sebagai bentuk dobrakkan baru dalam mengakses teknologi sebagaimana mestinya. Para warga dapat bersaing lebih luas menawarkan produk UMKM di website tersebut, dengan harapan dikenal oleh banyak orang, bahkan seluruh dunia.

Digital marketing tersebut dapat menjadi contoh khalayak umum dalam memasarkan UMKM yang  mengandalkan teknologi, karena cakupan konsumen pasar yang lebih luas daripada menggunakan manual marketing. Keuntungan yang didapat juga lebih banyak, karena manusia era sekarang serba digital dengan memanfaatkan internet dalam kehidupannya. 


Kampung Cyber Yogya- alodiatour.com


Jika para warga Kampung Cyber lebih menciptakan inovasi baru dalam menghadapi Society 5.0,  maka kehidupan warga lebih maju dan sejahtera. Skil dan ketrampilan dalam mengakses teknologi sudah didapatkan melalui edukasi  yang diadakan oleh Kampung Cyber dalam mengenalkan website, serta pengaplikasian teknologi informasi. Hasil edukasi tersebut dapat meningkatkan keterampilan dan memperluas karier pekerjaan di bidang teknologi informasi. 

Di era teknologi ini banyak membutuhkan para manusia yang paham akan teknologi, seperti web developer, web designer, digital marketer. Melalui hal kecil yang diterapkan oleh Kampung Cyber menjadi salah satu contoh untuk daerah lain untuk lebih melek teknologi dan berinovasi. Sebagai warga yang memikirkan masa depan, tidak akan menjadi pengguna teknologi dan dikuasai teknologi. 

Semoga dobrakkan dari Kampung Cyber tersebut menjalar keseluruh masyarakat Indonesia, sangat mengerikan bukan? jika masyarakat Indonesia melek teknologi dalam memberikan inovasi baru untuk kemajuan bangsa. 


Senin, 03 April 2023

Pasar Kembang: Sarkem Pusat Perlendiran di Yogyakarta



Jalan Malioboro dan Pasar kembang- yogya.com


Yogya, Yogya kota istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya. Itulah sepenggal lirik lagu yang populer di telinga masyarakat umum. Tidak dapat mengelak pada setiap daerah pasti memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Sama halnya dengan Yogyakarta dijuluki dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terkenal dengan Kraton Ngayogyakarta Diningrat, cagar wisata budaya, dan kota pendidikan. Bagi masyarakat umum melihat sekilas memang benar adanya Yogyakarta adalah kota yang unggul, asik, tetapi masih banyak permasalahan masyarakat  yang perlu di tinjau kembali. 

Pada area Malioboro tengah malam menjelang pagi, banyak di jumpai orang-orang yang tidur di bangku Jalan Malioboro, maupun pada pinggiran Pasar area Malioboro yang beralaskan kardus bekas. Para rakyat kecil tersebut adalah pemulung dan para perantau yang ingin mencari pekerjaan. Mereka hanya ingin mendapatkan kesejahteraan yang layak demi keberlangsungan hidupnya. Seakan-akan pasrah menerima keadaan yang ada. Area wisata Malioboro yang menjadi Jantung Kota Yogyakarta akan berbanding terbalik pada kenyataannya. 

Sarkem, Kota Yogya- Lugas Subarkah

Tidak jauh dari Malioboro, terdapat tempat prostitusi diantara Hotel Unisi dan Abadi Hotel Malioboro tepat di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Tempat prostitusi tersebut bernama Sarkem atau Pasar kembang. Prostitusi sarkem sudah ada sejak zaman kolonial Belanda tahun 1818. Sebutan sarkem pada waktu itu adalah Balokan (tempat menaruh balok kayu pembuatan rel dan stasiun). Tempat tersebut sengaja dibuat oleh pemerintahan Belanda sebagai tempat rehat para pekerja dan kebetulan dekat dengan pusat perekonomian yaitu stasiun yang bisa menambah pemasukan Pemerintah Belanda melalui bisnis perlendiran. 

Hingga kini keberadaan Sarkem tidak bisa hilang bergitu saja, meskipun berada pada pemukiman padat penduduk di gang RW Sosrowijayan Kulon Gedongtengen. Tetapi tidak dapat ditampik wilayah tersebut menjadi tempat perlendiran yang masih ada hingga saat ini, namun bukanlah tempat lokalisasi karena masih adanya penduduk yang tinggal di area itu dengan dominasi orang tua dan anak-anaknnya. 

Pada saat ingin memasuki wilayah tersebut akan dikenakan tarif sebesar Rp 5000, sebagai bentuk penjagaan. Pada area utama banyak para pekerja seks komersial (Psk) yang masih muda, dilanjutkan dengan area tengah pada usia menengah pula, hingga area akhir di dominasi usia tua. Para pelanggannya tidak lain para wisatawan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya ataupun anak muda yang ingin tau tentang perlendiran di sarkem. Meskipun berada di gang sempit, banyak sekali jejeran pekerja seks komersial (psk) dilengkapi juga dengan ruang karaoke dan ruangan khusus untuk melayani pelanggannya. 

Suasana malam Sarkem- Hammam Izzudin/Mojok.com


Selain sebagai tempat perlendiran, masih ada warga yang berjualan angkringan maupun warung kopi. Hal itu jarang ada di tempat lain, kapan lagi minum kopi ditemani muda-mudi dengan suasana malam yang menggairahkan. 

Prostitusi tidak akan musnah begitu saja. Yogyakarta yang notabennya sebagai kota pendidikan dan terkenal dengan sejarah sebagai tempat wisata, masih mempunyai celah prostitusi. Banyak sekali upaya pemerintah dalam mengatasi prostitusi, seperti yang dilakukan di Surabaya dengan membubarkan tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara bernama Dolly. Pembubaran tersebut dilakukan oleh mantan Walikota Surabaya Tri Rismaharini pada era itu. Meskipun sudah dibubarkan, perlendiran itu melahirkan lokalisasi baru yaitu kembang kuning, area stasiun wonokromo, hingga terminal bungurasih. Selama ada kehidupan manusia, tidak usai sampai kapanpun, karena sebab akibat yang membutuhkan dan dibutuhkan antara biologis dan ekonomis. 

Janganlah menjudge begitu saja. Para pekerja seks komersial (psk) juga menginginkan kehidupan yang lebih layak, namun keadaan yang belum bisa menerima kesejahteraan. Baik buruknya seseorang akibat dari lingkungan dan keadaan untuk tetap bisa hidup. Sudahkah kita sebagai manusia melakukan yang terbaik atau malah terburuk? 



Menelisik Taman Sari Tempat Kesenangan Sri Sultan Yogyakarta

Taman Sari: twitter @aMfrazing


Taman sari merupakan salah satu objek wisata sekaligus cagar budaya peninggalan Kesultanan Yogyakarta. Terletak di Jalan Rukun Kampung Taman, Kemantren Kraton, Yogyakarta. 

Taman sari di bangun pada tahun 1758 era Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwana I. Dalam kutipan buku Taman Sari (1993) Djoko Soekiman. Taman Sari dibangun sebagai bentuk penghargaan para permaisuri yang menemani sri sultan pada era peperangan Giyanti. Selain itu Taman Sari digunakan sebagai tempat melepas penat dan hiburan bagi Sri Sultan Hamengkubuwana I, permaisuri, keluarga dan selirnya. 

Di area Taman Sari terdapat kolam pemandian yang terbagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Sri Sultan), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Sri Sultan).  

Di kutip dari twitter dengan akun @HizbutTembakau terdapat menara yang digunakan Sri Sultan untuk mengawasi atau melihat pada selir-selirnya yang sedang mandi di kolam Umbul Pamuncar. Tepat di belakang menara tersebut terdapat Kolam Umbul Panguras tempat Sri Sultan mandi, tidak jarang juga Sri Sultan mengajak selir pilihan mandi bersama. Selain itu dibawah tangga menara terdapat kamar yang digunakan Sri Sultan untuk bercumbu dengan selir pilihannya. 

Pada saat memilih selir untuk menemani Sri Sultan, Sri Sultan membawa kembang kantil yang nantinya dilempar dari menara. Tujuannya adalah agar para selir berebut bunga kantil, selir yang mendapatkan bunga kantil tersebut yang akan menemani Sri Sultan. Dikutip dari twitter @TsubasaOzzoro berdasarkan penuturan tour guide Taman Sari. 

Jika dikaitkan dengan hal itu. Sri Sultan memiliki selir dan Taman Sari sebagai tempat hiburan, bukan serta-merta untuk memuaskan kebutuhan biologisnya saja. Banyaknya selir sebagai simbol Kekuatan dan kekayaan yang dimiliki untuk memikat banyak wanita. Melalui semboyan Harta, Tahta, Wanita yang menjadi pendoman Kesultanan. Selir di Kesultanan Ngayogyakarta dinikahi Sri Sultan secara nikah siri, sah secara agama, tetapi tidak tercatat di mata hukum. 

Banyaknya istri selir juga sebagai simbol  kekuasaan Kesultanan yang dipengaruhi asal daerah para selir Sri Sultan yang nantinya menjadi bagian kekuasan Kesultanan. Maka dari itu wilayah kekuasaan Kesultanan akan bertambah jika memiliki istri dan selir dari berbagai wilayah. Banyaknya istri pula sebagai peluang Sri Sultan memperoleh keturunan anak laki-laki, karena laki-laki yang akan meneruskan tahta Kesultanan. 






Jumat, 31 Maret 2023

Salah Kaprah: Makna Kasus Viralnya Klitih Yogyakarta


Ilustrasi klitih. Alinea.id/Aisya Kurnia.


Maraknya Klitih di Yogya membuat resah masyarakat sekitar. Yogya yang terkenal sebagai kota pendidikan kini teralihkan dengan kasus  klitih yang cepat merambah di penjuru kota Yogya. Para mahasiswa yang mulanya ingin mencari ilmu pendidikan kini kian was-was akan kasus klitih. Karena banyak sekali mahasiswa yang pulang malam setelah mengerjakan tugas, kini beban pikiran bertambah akibat kasus kejahatan tersebut. 

 Istilah Klitih berasal dari bahasa Jawa yang kini disalah artikan. Klitih sebenarnya adalah suatu kegiatan berjalan-jalan keluar malam dengan tujuan mencari angin ataupun mengontrol area ladang pertanian dari hama dan pencurian gabah (bulir padi). Hal yang dilakukan oleh simbah-simbah zaman dulu "sik tak klitih" itu sambil mencari angin dengan merokok menikmati suasana malam, sembari menjaga ladang. Kini hal yang semula-nya positif menjadi negatif. Seiring berkembangnya zaman pula dikaitkan dengan kejahatan jalanan yang dilakukan sekumpulan anak muda keluar malam dengan tujuan melukai seseorang tanpa motif yang jelas. 

Kejahatan jalanan tersebut didominasi oleh anak muda tentang usia 15-25 tahun yang masih labil dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan. Maka dari itu kejahatan di Jogja tersebut hanya melukai seseorang yang di temuinya tanpa mengambil barang berharganya. Setelah berhasil melukai korban tersebut, pelaku merasa dirinya keren dan semakin banyak korban maka pelaku semakin terkenal. Hal tersebut menjadi salah kaprah, terkenal dari tindak kejahatan. 
Selain dari faktor psikologi kestabilan emosi pelaku kejahatan tersebut dipengaruhi oleh media sosial yang merambah begitu cepat, menampilkan adegan kekerasan dan menjadikan penonton tertantang untuk mencobanya. Perlunya peran keluarga dan pihak sekolahan untuk mensosialisasikan hal-hal yang melanggar norma dan penekan bahwa tindakan kejahatan tidak akan membuat semakin terkenal, tetapi membuat stigma buruk terhadap pelaku dan keluarganya sampai kapanpun akibat kejahatan yang dilakukan. 


Ilustrasi kejahatan jalanan (Suara.com/Iqbal Asaputro)

Pada dasarnya kejahatan jalanan disetiap daerah itu ada, contohkanlah surabaya pada akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023 maraknya para pemuda yang membawa senjata tajam yang keluar pada malam hari, hal tersebut membuat resah warga sekitar. Penyebutan kejahatan jalanan tersebut adalah Gangster. Sama halnya dengan kasus kejahatan jalanan dengan sebutan Klitih yang mulanya berarti keluar malam untuk mencari angin kini disamakan dengan keluar malam untuk melukai seseorang. Terkadang manusia mengambil gampangnya saja dalam melabeli suatu kejadian tanpa tau arti sebenarnya. 

Jadi kita sudah mengetahui bahwasanya istilah Klitih yang sedang viral sekarang adalah kejahatan jalanan. Jika terdapat berita mengenai seseorang dibacok orang asing pada malam hari di area Yogya itu bukanlah Klitih, itu kejahatan jalanan. Para media memang sengaja menggunakan kata klitih sebagai bentuk click bait agar beritanya diminati banyak orang. 

Perlunya penekan mengenai arti klitih sendiri, sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya mengenal budaya dan norma adat istiadat yang ada di setiap daerah, agar kelak tidak disalah artikan, seperti makna Klitih. 

Selasa, 21 Maret 2023

Hiruk Pikuk Kota Istimewa: Mari Mengenal Pasar Tua Beringharjo Yogyakarta


Pintu Masuk Pasar Beringharjo

Ketika berkunjung ke Malioboro, pasti tidak lepas dengan banyaknya ruko dan pasar yang ada di area Jalan Malioboro. Pasar Beringharjo salah satunya, merupakan pasar tertua yang ada di Yogyakarta. Dalam sejarahnya Pasar Beringharjo di bangun pada area lahan hutan beringin, sama halnya pembangunan keraton atau Kesultanan Yogyakarta yang dimana Sri Sultan Hamengkubuwana I memerintahkan rakyatnya untuk membabad hutan beringin untuk dijadikan wilayah Kesultanan Yogyakarta tahun 1758. Hasil dari babad hutan beringin tersebut kini terbentuk wilayah Kraton sebagai pusat pemerintahan, Alun-alun sebagai ruang publik yang dapat dinikmati oleh masyarakat pada saat itu maupun sekarang, terdapat juga Masjid Gede Kauman yang digunakan sebagai tempat ibadah, dan Pasar Beringharjo sebagai pusat perekonomian. 

Kata Beringharjo berasal dari Bering yang berarti hutan beringin, Harjo berarti sejahtera. Jadi pasar tersebut di bangun pada area hutan, hutan konon katanya banyak menghasilkan kebutuhan pokok sehari-hari manusia yang diharapkan dapat mensejahterakan rakyat. 

Pada era sekarang Pasar Beringharjo tetap eksis, meskipun tergolong pada pasar yang masih tradisional. Karena keistimewaan dari sejarah pasar tradisional yang dibangun langsung atas perintah  Sri Sultan Hamengkubuwana I menjadi pusat perekonomian pada zaman itu. 

Suasana Pasar Beringharjo

Pada area depan, tepatnya samping jalan Malioboro, terlihat plang bertuliskan Pasar Beringharjo beserta penjelasan mengenai Pasar Beringharjo. Pasar tersebut buka mulai jam 08.00 pagi hingga 21.00 malam pada waktu setempat.

Pada saat memasuki pintu utama Pasar Beringharjo disambut oleh banyak ruko-ruko yang menjual pernak-pernik cenderamata, seperti kain batik, baju batik, dan pakaian khas lainnya. Pada area tengah pasar menjual suvernir dan perhiasan khas Yogyakarta, serta pada area belakang pasar menjual kebutuhan pokok semacam sayur-sayuran, buah-buahan, daging, dan sembako. Pada area belakang bisa dibilang tempat para tengkulak ataupun orang berbelanja dengan jumlah banyak untuk warung makan dan sebagainya. 

Hal yang menarik selain dari segi filosofisnya adalah terdapat kuli panggul Pasar Beringharjo yang mempunyai Paguyuban buruh gendong. Para kuli panggul tersebut mayoritas adalah ibu-ibu yang sudah berumur. Kualitas tenaga dari ibu kuli panggul tidak perlu diragukan lagi, beliau jalan naik turun tangga dengan mengendong barang-barang berkilo-kilogram pesanan hingga ke area parkir Pasar Beringharjo. 

Seperti Ibu Prengel Sugiarti asal Kulon Progo yang sudah menjadi kuli panggul sejak beliau masih muda, meskipun perawakan beliau kecil, tenaganya boleh diadu, karena kebiasaan Ibu Prengel dalam meminggul barang selama bertahun-tahun. Ciri khas dari kuli panggul salah satunya ialah memakai kaos kuning biru yang bertuliskan paguyuban buruh gendong dengan membawa keranjang  yang dipanggul pada belakang punggungnya. 

Sangat disayangkan jika pergi berkunjung ke Malioboro tidak mampir di Pasar Beringharjo, Pasar tertua di Yogyakarta yang memiliki daya tarik filosofis dan suasana yang kental akan tradisionalis. Akan sia-sia pula jika berkunjung jauh-jauh ke Yogyakarta, hanya singgah di area terkenal tanpa mengetahui filosofis setiap area yang dikunjungi. 

Senin, 20 Maret 2023

Akankah Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) Kian Tenggelam Keberadaannya

Becak motor Vs Andong


Malioboro sebagai pusat penggerak perekonomian di wilayah Kota Yogyakarta. Para wisatawan hilir-mudik mendatangi Malioboro, berbelanja cenderamata khas Yogyakarta ataupun hanya menikmati suasana jalan Yogyakarta yang terkenal itu. Para wisatawan datang dan pergi menggunakan banyak transportasi yang tersedia. Bus pariwisata, Kendaraan pribadi, Gojek, Gocar, Trans Yogya, Andong dan Becak Motor. 
Pada era modern ini wisatawan dengan mudahnya mengakses transportasi umum yang tersedia di segala penjuru wisata Yogyakarta. Dibalik itu semua banyak hal positif yang di dapatkan mudahnya akses transportasi seiring berkembangnya ilmu dan teknologi. Di sisi lain transportasi umum tradisional semakin tersingkir dan kurang mendapatkan perhatian, khususnya para Pembecak.

Becak dahulu di kayuh oleh tenaga manusia, sekarang berganti menggunakan mesin yang kini bernama Becak Motor. Jika di Yogyakarta bernama Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY). Meskipun penggunaan Becak Motor dianggap sama halnya menggendarai Sepeda Motor, namun kini di area Yogyakarta kurang di mendapat perhatian dianggap masih Tradisional dan kurang efesien. Persaingan yang ketat terhadap tranportasi yang modern lebih efesien dan cepat kian merambah. Contohkanlah GO-JEK dan GO-CAR kita tinggal buka aplikasi yang bersangkutan dan memesan sesuai dengan tujuan. Pembayaran pun lebih efesien melayani Cash maupun Qris.

Trans Jogja pula, kita cukup berhenti di Halte dan  diarahkan kepada petugas ingin pergi kemana, pembayaran pun semakin modern menggunakan E-Toll  dan Qris tidak melayani cash dengan harga tarif reguler Rp 3.600, sedangkan pelajar Yogyakarta hanya Rp 60, dan lansia Yogyakarta hanya menunjukkan KTP alias Rp 0. Dengan rute Trans Yogya yang tersedia. Kemudahan demi kemudahan penunjang transportasi digalakkan oleh pemerintah Yogyakarta, demi mengurai kemacetan yang ada. 

Transjogja dan Becak- Facebook kota Jogja


Andong, turunan kereta kencana Kesultanan, kendaraan tradisional yang bertenaga kuda masih sangat diminati daripada becak motor yang sama-sama tradisional, namun keistimewaan andong tersebut yang menjadi saya tarik wisatawan, meskipun harus merogoh kocek lebih daripada tranportasi lain. Andong dikemudikan oleh Pak kusir yang berpakaian rapi dengan khas busana batik(lurik) menggunakan jarik yang menjadi daya tarik tersendiri. 

Andong: bakpiakukustugu.co.id

Pada akhirnya pula Paguyuban Becak  Motor Yogyakarta (PBMY) sering mengalami gesekan terhadap Transportasi umum di Yogyakarta sendiri karena persaingan yang tidak seimbang. Para pembecak motor ingin mendapatkan perhatian dan kesejahteraan yang seimbang oleh pemerintah yang diharapkan sama-sama mendapatkan keuntungan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Para orang kecil seperti ini, bekerja untuk bisa makan pada hari ini dan esok. Pendapatan yang tidak seberapa menjadi kajian yang perlu ditinjau kembali demi kesejahteraan rakyat kecil di Yogyakarta. 

"All Izz Well" Sistem Pendidikan Indonesia Banyak Maunya, Miris Hasilnya.

Konon, film yang bagus itu adalah film yang relevansinya abadi. Tapi, bagi saya, 3 Idiots (2009) karya Rajkumar Hirani ini bukan...